algorithm as a boss

sosiologi pengemudi ojol yang diatur oleh kode bukan oleh manusia

algorithm as a boss
I

Bayangkan kita punya bos yang tidak pernah tidur. Tidak bernapas, tidak butuh kopi, dan sama sekali tidak peduli kalau anak kita sedang sakit. Bos ini tidak punya kantor, tapi dia tahu di mana kita berada setiap milidetiknya. Kedengarannya seperti naskah film sci-fi distopia yang suram, bukan? Tapi nyatanya, ini adalah realitas sehari-hari bagi jutaan teman-teman kita di jalanan: para pengemudi ojek online alias ojol. Hari ini, mari kita membedah sebuah fenomena modern yang pelan tapi pasti mengubah makna pekerjaan. Pernahkah kita bertanya-tanya, apa jadinya ketika manusia tidak lagi diatur oleh manusia, melainkan oleh deretan kode tak kasat mata?

II

Mari kita mundur sejenak untuk melihat sejarahnya. Dulu, di era Revolusi Industri, bos kita adalah mandor pabrik yang galak. Melompat ke abad 20, bos kita adalah manajer berjas rapi yang gemar mengadakan rapat. Walau kadang menyebalkan, mereka tetaplah entitas biologis. Kita bisa merengek minta cuti, berdebat soal gaji, atau sekadar membawakan martabak agar hati mereka luluh. Intinya, ada ruang untuk kompromi. Namun, evolusi sosiologi kerja membawa kita pada sesuatu yang disebut algorithmic management atau manajemen algoritma.

Awalnya, konsep ini dijual dengan kemasan psikologis yang sangat manis dan memberdayakan: "Jadilah bos bagi diri Anda sendiri!" Menggiurkan sekali, ya? Siapa yang tidak mau jam kerja fleksibel dan mendapat kebanggaan dengan status sebagai mitra? Tapi di balik ilusi kebebasan ini, tanpa disadari, sistem sedang membangun sebuah kandang kerja yang sama sekali baru.

III

Lalu pertanyaannya, bagaimana cara sekumpulan kode ini mengendalikan manusia tanpa perlu membentak dari ruang sudut kantor? Di sinilah sains dan psikologi masuk dengan sangat mulus. Algoritma aplikasi menggunakan prinsip psikologi perilaku yang sangat presisi, persis seperti mekanisme mesin slot di kasino.

Pernahkah kita mendengar istilah gamification? Sistem mengubah pekerjaan fisik yang melelahkan di jalanan menjadi semacam permainan interaktif. Ada target poin, level performa dari basic hingga platinum, dan tentu saja, hadiah tupo atau tutup poin. Ini adalah aplikasi langsung dari teori intermittent reinforcement yang digagas oleh psikolog B.F. Skinner. Saat pengemudi menatap layar ponsel mereka, menunggu bunyi "teng-tong" pesanan masuk, otak mereka dibanjiri dopamin. Rasa penasaran "apakah orderan berikutnya argonya besar atau kecil?" membuat mereka terus menarik tuas gas. Mereka mengabaikan lelah pinggang, bahkan saat hujan deras mengguyur. Tapi, mengapa mereka tidak bisa sekadar mematikan aplikasi dan pulang saat lelah? Ada rahasia yang jauh lebih dingin di balik kode tersebut.

IV

Inilah realitas sosiologis dan fakta ilmiah yang menjadi rahasia terbesarnya. Bos algoritma ini berkuasa secara mutlak melalui konsep information asymmetry atau ketimpangan informasi. Sang aplikasi tahu segalanya: pola cuaca, riwayat order jutaan orang, tingkat kemacetan, hingga seberapa sering seorang pengemudi membatalkan pesanan. Sebaliknya, sang pengemudi nyaris buta. Mereka hanya diberi tahu ke mana harus pergi dan berapa upahnya, detik itu juga, dan mereka hanya punya hitungan detik untuk menerima atau menolak.

Filsuf Michel Foucault pernah membahas konsep Panopticon, sebuah desain penjara mengerikan di mana sipir bisa melihat semua tahanan, tapi tahanan tidak pernah tahu kapan pastinya mereka sedang diawasi. Akibatnya? Para tahanan akan mendisiplinkan diri mereka sendiri karena takut. Aplikasi ojol adalah Panopticon digital. Jika performa pengemudi turun, algoritma tidak memecat mereka dengan surat peringatan yang bisa didiskusikan. Ia sekadar "menggagu-kan" atau membisukan akun tersebut. Orderan berhenti masuk. Hukuman dijatuhkan tanpa ada ruang sidang, tanpa ada wajah manusia yang bisa diprotes. Sang algoritma secara dingin menghitung efisiensi, mengubah keringat, stres, dan kelelahan manusia menjadi sekadar data point untuk menjaga ekosistem bisnis tetap berjalan.

V

Menyadari hal ini mungkin membuat pesanan kopi susu atau mie goreng kita hari ini terasa sedikit berbeda. Kita bukan sekadar konsumen; kita adalah bagian dari ekosistem di mana daging dan darah harus beradaptasi dengan kecepatan komputasi. Saya tentu tidak mengajak teman-teman untuk berhenti menggunakan aplikasi ini. Bagaimanapun, teknologi ini jelas mempermudah hidup kita dan, di sisi lain, memberi banyak orang jaring pengaman untuk mencari nafkah.

Namun, amat penting bagi kita untuk memiliki lensa berpikir yang kritis. Di balik narasi heroik "mitra yang merdeka", ada manusia sungguhan yang setiap hari harus bernegosiasi dengan algoritma yang tak punya hati nurani. Mungkin, langkah terkecil yang bisa kita lakukan mulai hari ini adalah mengembalikan sedikit unsur kemanusiaan yang direbut oleh sistem. Sebuah senyuman, sapaan hangat, ucapan terima kasih yang tulus, atau tip yang layak saat pesanan tiba, adalah bentuk pemberontakan kecil kita. Sebuah cara sederhana untuk mengingatkan teman-teman ojol—dan juga mengingatkan diri kita sendiri—bahwa sebelum kita semua direduksi menjadi sekadar titik GPS di atas peta digital, kita adalah manusia.